Cari

Tape Ubi

Posted 18-10-2017 16:04  » Team Friendonesia

Salah satu jajanan favoritku sejak kanak-kanak dahulu di kampung. Rasanya yang manis khas, dengan sedikit aroma alkohol yang terbentuk akibat proses peragian selama pengolahan tape, selalu membangkitkan seleraku untuk mencicipi.

Aku sempatkan berhenti sejenak di lokasi jajanan rel kereta api Bengkel. Jaman dulu bagiku tape lumayan ekslusif, dengan uang jajan ala kadarnya biasanya aku hanya membeli Rp 50 atau Rp 100. Dibungkus daun pisang, kadang hanya terbeli 3-5 potong saja.

Satu yang selalu aku harapkan adalah bonus kuah ragi tape. Rasanya yang manis dan memabukkan sedikit memberi kesan hebat dalam jiwa 'si bolang'-ku.

Biasanya jajanan tape dijajakan anak-anak dengan menenteng ember berisi tape dengan jalan keliling desa. Dan tentunya dengan suara panggilan mereka yang khas, sedikit memelas dan terkesan iba 'tappeeeeeeee...". Seolah mengambarkan susahnya dan prihatinnya kehidupan ekonomi para pengolah jajanan tape yang harus mengolah singkong dari kebun sendiri hanya untuk mendapatkan recehan dari anak ingusan yang berkeliaran di halaman kampung.

Satu hal unik, selama proses pengolahannya konon katanya tidak boleh ada yang kentut.

Jadi tidak jarang saat mencicipi tape masam atau kasar tak matang sempurna, tak jarang konsumen nge-judge bahwa ada yang buang angin pada saat proses pengolahan.

Dan ekspresi penjual tape-pun terlihat masam, semasam tapenya yang bakal tak terjual habis hari itu.

Medan, 12 Agustus 2017
Ondo Alfry Simanjuntak

Tags
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah