Cari

Kampung Nelayan: Antara Takraw, Pendidikan dan Nasionalisme.

Posted 18-10-2017 15:59  » Team Friendonesia

Gang sempit berkelok serta aroma amis ikan di udara menjadi trademark perkampungan nelayan dimana saja. Seperti biasa sore itu mengunakan motor beroda dua, aku beserta istri belanja langsung ke gudang ikan di Tanjung Tiram, Batubara.

5 menit berkendara melewati rumah penduduk akhirnya kami sampai di sebuah gudang dengan lusinan kapal nelayan bersandar di belakangnya. Tidak lupa aku amati ketinggian air sudah mulai naik dibandingkan hari kemarau kemarin, yang berdampak atas naiknya harga ikan akibat sulitnya nelayan melaut dengan debit air sungai yang dangkal.

Asik memilih ikan, aku tinggalkan istri dan berlalu mengamati daerah sekitar. Tampak box-box penyimpanan ikan, kapal motor berminyak, serta perkampungan nelayan sekitar.

Satu yang menarik perhatianku adalah teriakan anak-anak yang bermaik sepak takraw dengan antusias. Diiringi gelak tawa dan seruan bareng mereka yang teratur berirama menghitung angka hasil permainan mereka. Tidak jarang pula mereka harus beradu pendapat saat jatuhnya bola takraw berada dalam posisi garis tipis.

Aku perhatikan beberapa anak-anak memakai sepatu sneaker, bahkan ada yang masih tampak baru digunakan yang membantu mereka dalam mempermudah mengkontrol bola. Kontras sekali dengan tampilan pakaian mereka yang terkesan lusuh dan kumal.

Takraw, sebuah olah raga yang cukup populer di daerah pesisir Indonesia. Uniknya, di daerah ini berkisar di bulan kemerdekaan Indonesia, perlombaan sepak takraw lebih populer dibandingkan olah raga lain. Contohnya di daerah Siantar atau Tobasa, perlombaan yang cukup berprestise adalah bola volley, basket atau sepakbola.

Tidak mau kalah, sengitnya persaingan dan emosi kala bermain takraw di daerah pesisir bahkan mengalahan antusiasme pertandingan piala dunia sekalipun. Dalam hati aku selalu bersyukur masyarakat masih antusias dengan olahraga Takraw yang konon adalah salah satu warisan budaya Nenek Moyang Indonesia. Sebuah nilai plus Nasionalisme dalam olahraga Takraw di kampung nelayan pesisir pantai Sumatera.

Tapi hal ini sangat berbanding terbalik dengan kualitas dan antusias masyarakat kampung nelayan terhadap pendidikan. 72 tahun Indonesia merdeka ternyata tidak merubah banyak wajah masyarakat pesisir. Sesuai informasi yang aku dapat, dengan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, setiap sekolah dasar di pemukiman nelayan bisa menerima 120 orang murid baru pertahunnya. Setelah kelulusan 6 tahun kemudian hanya bertahan setengahnya, dalam arti 50% drop out.

Angka ini akan terus mengerucut hingga kejenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMP dan SMA). Pada akhirnya yang berhasil melanjut ke perguruan tinggi hanya sekitar 10-15 orang.

Tentunya hal ini saat berbeda jauh jika dibandingkan dengan kepedulian masyarakat dengan pendidikan di kota lainnya misalnya, Medan, Siantar, terutama Toba Samosir. Di daerah pesisir tingkat pemahaman akan pendidikan seakan hilang ditelan tingginya perputaran ekonomi bandar dari sisi perikanan.

Filosofi "Bukan Lautan Tapi Kolam Susu" sangat berlaku di daerah pesisir. Orang tua dan para generasi muda seakan dimanjakan dengan mudahnya mencari rezeki dari melaut. Mereka merasa lebih bebas dan leluasa mengais rezeki di dek-dek kapal nelayan dari pada harus berkutat dengan bangku sekolah dan buku-buku pelajaran.

Tentunya hal ini menjadi permasalahan sendiri dengan masa depan kota ini, lambatnya informasi dan terapan teknologi menjadikan kota-kota pesisir menjadi kota terbelelakang dalam segala hal.

Hal ini diperparah dengan dikitnya fasilitas dan minimnya para relawan yang bergerak mengentaskan ketertinggalan pendidikan. Pendidikan disini bukan hanya fasilitas semata, tetapi bagaimana merubah cara pandang masyarakat bahwa pendidikan juga merupakan modal penting untuk memajukan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Batubara, 23 Agustus 2017
Ondo Alfry Simanjuntak

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah