Cari
 Literasi
 Diposting 26-10-2018 18:39

Sontoloyo, Si Gembala Itik Yang Ternistakan Oleh Waktu

Foto Caption: Sotoloyo sedang bekerja menggembalakan

Dasar Sontoloyo..! Umpat Amien saat motornya hampir menabrak anak-anak yang berlarian sepanjang gang mengejar layangan putus di sore hari yang cerah. Dengan sedikit mengomel Amienpun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang berlokasi di persimpangan gang berikutnya.

Hal ini sedikit ilustrasi tentang umpatan "Sontoloyo" yang kini maknanya berkonotasi negatif. Tapi tahukah anda asalah usul dan arti sebenarnya istilah Sontoloyo ini?

Istilah Sontoloyo pada awalnya populer di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sontoloyo sebenarnya merupakan sebutan untuk mereka yang bekerja menjaga serta menggembalakan itik atau bebek. Pada umumnya pekerjaan menjaga dan menggembalakan itik sangat populer di daerah Brebes. Sontoloyo mempunyai tugas menggembalakan itik mulai dari pagi hingga sore.

Sontoloyo pada pagi hari akan menggiring itik ke pekarangan atau lokasi penggembalaan. Pada umumnya lokasi yang biasa dijadikan tempat penggembalaan adalah areal persawahan. Berharap pada sisa-sisa bulir padi yang terjatuh di tanah paska panen, Sontoloyo akan kerap ditemui di daerah yang sedang merayakan musim panen raya. Hal ini pulalah yang membuat mereka tak jarang akan berpindah dari sawah yang satu kesawah yang lain, bahkan sampai antar kecamatan hingga kabupaten hanya untuk mengharapkan sisa-sisa panen yang terbuang percuma, sekedar menghemat pakan ternak bebek yang mereka gembalakan.

Jika menggembala cukup jauh, tak jarang Sontoloyo akan menginap dan bermukim di areal persawahan dengan mendirikan pondok-pondok kecil untuk sekedar tempat berteduh dari panas terik atau hujan dan bahkan untuk bermalam dan tidur. Mondar-mandir dari satu desa ke desa yang lain, hidup Sontoloyo seolah tak jelas masa depannya.

Selain menggembala itik atau bebek, Sontoloyo juga bertugas mengutip atau memanen telor itik yang terjatuh di lokasi penggembalaan. Dibeberapa daerah seperti Brebes, para Sontoloyo juga mahir dalam mengelola telor bebek menjadi telor asin. Biasanya mereka membuat telor asin untuk meningkatkan daya jual telor sekedar menambah penghasilan sebagai gembala itik.

Didukung dengan penampilan kucel, dekil seadanya dan kadang terlihat compang-camping membuat stigma negatif muncul untuk profesi gembala yang satu ini.

Sontoloyo, penggembala itik

Foto Pengembala Itik atau sering disebut Sontoloyo.

Di jaman sekarang, umpatan Sontoloyo bermakna manusia yang tidak jelas hidup dan masa depannya, atau juga bermakna luntang-lantung. Dalam hal lain Sontoloyo juga bermakna orang yang memiliki pendirian dan sikap lemah, tidak memiliki kebulatan tekad.

Menilik kepada ucapan dan statement presiden Jokowi akan "Politikus Sontoloyo" merangkum dari penjelasan sepenuhnya bisa diartikan bahwa politikus Sontoloyo adalah mereka-mereka yang bermuka dua, para politikus yang diawal berakting seolah-olah mendukung program yang pro rakyat, tetapi di lapangan mereka memanfaatkan situasi dan menuding seolah-olah program dana Kelurahan yang dicanangkan Jokowi seolah adalah politik derma jelan Pilpres 2019.

Meski dekil dan bersahaja, pada dasarnya Sontoloyo masih punya harga diri dan niat tulus dalam mencari nafkah secara halal dengan memanfaatkan situasi yang ada. Bukan seperti mereka politikus-politikus bermuka dua yang seolah-olah membela rakyat tapi hanya sekedar mencari dukungan untuk Pileg 2019 saja.

Jangan nistakan Sontoloyo, hai para politikus busuk!

Ditulis Oleh Ondo Alfry Simanjuntak
Seorang penulis, pengamat dan pencinta budaya Batak ~ Sahabat Sebangsa Setanah Air

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah