Buah 'Jambi' Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

Posted 28-09-2018 12:05  » Team Friendonesia
Foto Caption: Foto, Zumi Zola (aktivis 2112) gubernur Jambi dalam sidang KPK
Jakarta - Melihat situasi penutupan rumah ibadah umat kristen di provinsi Jambi, semakin menguak luka lama di benak para minoritas. Slogan tagar-tagar cinta NKRI, toleran dan suka membantu seolah hanya topeng belaka.

Kembali ke citra lama para ormas radikal, yang kerap sweeping dan anti agama lain dengan slogan kilafahnya, terkesan dibackup oleh pemprov Jambi dalam kasus penyegalan gereja ini. Sebagai pemerintah provinsi sudah seharusnya mereka mengakomodir mayoritas dan minoritas, memberi ruang kemerdekaan dan kebebasakan hakiki. Bukan justru menyegel beberapa rumah ibadah dengan alasan perizinan.

Sebuah prilaku pemerintah yang jelas bertolak belakang dengan semboyan negara Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, bertentangan dengan UUD 1945, dan juga berpontensi merusak kesatuan negara Republik Indonesia.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dilain pihak mantan gubernur Jambi Zumi Zola yang diciduk KPK akibat terindikasi korupsi dengan jumlah yang massif. Zumi Zola yang kerap muncul dipublik dalam gerakan ummat Islam, dikenal dengan citra santun dan bersih yang faktanya hanya seekor tikus yang mengunakan fanatisme agama sebagai tameng-tameng keserakahannya.

Bukannya aktif menolak korupsi, warga dan pemprov Jambi terkesan adem saja dan lebih memilih disibukkan menutup rumah ibadah minoritas, dari pada gencar berbenah di lembaga pemprov Jambi dalam membersihkan diri mereka dari maksiat korupsi yang merebak di semua lini.

Sayangnya gerakan radikal dan intoleran ini selalu muncul jelang-jelang pemilihan umum, presiden dan daerah. Disengaja atau tidak, tetapi gerakan ini kerap memicu sentimen negatif antar umat beragama di Indonesia.

Dan ormas-ormas radikal yang kerap menekan pemerintah ini terkenal beraffiliasi dengan pasangan paslon no.2 Prabowo-Sandi. Bukan tidak mungkin hal-hal ini berpotensi menambah tensi gesekan antar kedua belah pihak pendukung pasangan calon Presiden ini.

Intens mencoba membangun citra nasionalis, kubu Prabowo harusnya mampu membuktikan sikap mereka dalam merangkul setiap elemen masyarakat dengan buang badan langsung dalam kasus penutupan gereja di Jambi.

Sama seperti kasus-kasus sebelumnya, bukannya memberikan solusi, kubu Prabowo malah kerap muncul sebagai motor gerakan-gerakan nir toleransi beragama. Sudah tentu dengan harapan meraup besarnya dukungan agama Mayoritas terhadap kubu Prabowo.***

Kembali ke politik oportunis klasik, besarnya dukungan dan suara adalah kunci KEKUASAAN.

Salam Persatuan,
Ondo Alfry Simanjuntak

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI