Cari

Edy! Malu Bertanya Sesat Dijalan

Posted 26-09-2018 13:29  » Team Friendonesia
Foto Caption: Edy Rahmayadi
Bagi Edy Rahmayadi Tidak Berlaku Pepatah "Malu Bertanya Sesat Di Jalan"

Dengan beredarnya cuplikan video wawancara reporter Aiman (KompasTV) dengan Edy Rahmayadi sebagai ketum PSSI yang juga merangkap sebagai Gubernur Sumatera Utara yang baru terpilih, saya semakin pesimis dengan kemajuan provinsi Sumatera Utara 5 tahun ke depan.

Jika kalimat "Apa urusan anda menanyakan itu?" yang terkesan arogan tersebut, semakin sering dipertontonkan dan diaplikasikan dalam tugas-tugas dan pertanggung jawaban pemimpin, saya yakin bahwa Sumut akan jalan di tempat.

Sikap arogan dan defensif seolah menampilkan citra negatif bahwa Edy Rahmayadi merupakan karakter yang tidak solutif dan nir kemampuan dalam mengarahkan masyarakat melaksanakan cara-cara solusi yang aplikatif.

Citra Edy Rahmayadi seolah seperti pemimpin yang anti pepatah "malu bertanya sesat di jalan". Jika sempat masyarakat Sumut lebih memilih diam dari pada menanyakan dan menyampaikan langsung segala keluh kesahnya ke pada beliau, berarti roda pemerintahan tidak mungkin akan menjadi pincang di Sumatera Utara.

Belum lagi moment-moment beliau dalam merespon pendemo kaum nelayan dan suporter PSMS semakin menggambarkan rendahnya kematangan emosional dan diplomasi beliau.

Tidak memungkinkan kondisi ini bakal menjadi masalah besar kedepannya, dimana karakter orang Medan yang "kekeuh", semakin dikeras makan akan melawan.

"Sekali dua kali kau sakiti hati ini, tapi jangan coba ke tiga kali" sebuah cuplikan syair lagu yang dipopulerkan trio-trio penyanyi Batak. Sebuah ungkapan bahwa cinta juga memiliki titik kesabaran diketukan terakhir.

Sebagai sipil (non militer) harusnya Edy Rahmayadi harus lebih merakyat, melepaskan segala formalitas dan kebiasaan beliau kala menjabat sebagai militer sebelumnya. Komunikasi yang intens dan bersahabat, mecairkan komunikasi kaku dan formatif ala militer TNI. Membangun pondasi pronvinsi Sumatera Utara yang kuat, provinsi sudah cukup jenuh dari tekanan korupsi yang telah mendarah daging di semua bidang.

Oleh Ondo Alfry Simanjuntak

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah