Cari

Gandhi Pradikta yang Raup Uang Rp 8 Miliar hanya dengan Mengaku-ngaku Staf Presiden

Posted 07-08-2018 12:37  » Team Friendonesia
Foto Caption: Ghandi (berkopiah putih) saat keluar dari Ruang Tirta 2 Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/7/2018).

Gandhi Pradikta, terdakwa yang mengaku-ngaku sebagai staf presiden kembali jalani sidang atas dugaan kasus penggelepan dan penipuan.

Ia menjalani sidang dengan agenda keterangan terdakwa di Ruang Tirta 2, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Jawa Timur, Senin, (6/8/2018).

staff presiden gadungan

Dalam keterangannya di persidangan, ia mengaku berhasil meraup uang sebesar Rp 8 miliar atas perbuatannya.

Bahkan ia sempat menangani pengusaha dari Australia. Di hadapan majelis hakim, ia dicecar beberapa pertanyaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi terkait aksinya.

Terdakwa tidak hanya berhasil menipu pengusaha tanah, tapi juga mendaftarkan satu di antara korbannya menjadi TNI.

“Saya mendapat pakaian setelan jas atas dana pribadi. Saya bisa masuk ke Istana Bogor dan beberapa kali bertemu dengan kepala biro kepresidenan,” ujarnya di hadapan Ketua Majelis Sifa’urosidin sebagaimana dikutip dari TribunJatim.com.

Kemudian, terdakwa mengaku bisa masuk istana kepresidenan berkat kenalannya dari Paspampres.

Selain itu, ia sempat mendapat permintaan dari pengusaha dari Australia untuk pembebasan tanah.

Menariknya, dari dana tersebut 50 persennya ia gunakan untuk kegiatan sosial.

Kegiatan tersebut digalang oleh komunitas yang ia bentuk sendiri.

“Rp 4 miliar saya gunakan untuk komunitas saya bernama H2O. Yang anggotanya terdiri dari anak-anak jalanan di Jakarta. Karena operasional kegiatannya besar,” lanjut Gandhi.

Menanggapi pernyataannya, Ketua Majelis Hakim Sifa’urosidin bergeming, meski ia mempunyai komunitas tersebut terdakwa tetap bersalah atas tindakannya.

“Banyak sekali kejahatanmu,” ketusnya.

Lantas Hakim pun langsung mengetuk palu sebagai tanda berakhirnya sidang. Ia akan menjalani tuntutan pada sidang selanjutnya pekan depan. Ia terbukti melanggar Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

****

Sosok Ghandi bak parlente

Sebelum ditangkap, ia berlagak parlente.

Ia berkeliling dengan modal keplek bertuliskan Kementerian Sekretariat Negara RI.

Ia pun berhasil mempedayai sekitar 80 orang untuk dimasukkan jadi PNS di seluruh Indonesia.

Namun ulah penipuan yang dilakukan lelaki asal Jalan Ikan Banyar, Karangrejo, Banyuwangi ini berakhir di penjara Polrestabes Surabaya.

Lelaki bertubuh subur itu pun ditangkap tim gabungan dari Polsek Wonokromo dan Resmob Polrestabes Surabaya saat menginap di sebuah hotel di kawasan Jalan Diponegoro, Jumat (30/3/2018) petang.

Ketika penangkapan berlangsung, petugas menyita sebuah mobil sedan BMW hitam DK 116 FS.

Selain itu juga beberapa formulir pendaftaran CPNS, keplek bertuliskan Kementerian Sekretariat Negara RI dengan foto Gandhi Pradikta.

Di Kemensesneg, tersangka mengaku sebagai staf, tapi setelah dicek, ternyata palsu.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran, menjelaskan, korban yang lapor baru satu orang.

"Korban dijanjikan bisa masuk TNI AL. Korban sendiri sudah memberi uang Rp 130 Juta. Tapi ternyata dibohongi," tutur AKBP Sudamiran, Sabtu (31/3/2018) lalu.

AKBP Sudamiran menuturkan, penyidik yang memeriksa tersangka pascaditangkap mengaku sudah mempedayai 80 orang. Jumlah uang yang sudah dinikmati tersangka sekitar Rp 4 miliar.

Aksi penipuan yang dilakukan tersangka berlangsung sejak tahun 2016.

Wilayah yang disasar hampir seluruh kota di Jawa Timur.

"Untuk Surabaya sendiri ada 20 korban. Bagi korban yang belum lapor silakan segera lapor ke Polrestabes Surabaya," imbaunya.

Untuk memperdayai korbannya, selain mengaku sebagai salah satu staf Kementerian Sekretariat Negara RI dan juga sebagai Staf Presiden, ia juga ikut-ikutan menganakan baju kemeja putih.

Terkadang batik yang biasa dipakai pejabat plus ID card palsu di saku.

Lebih meyakinkan lagi, tersangka menyewa mobil mewah dengan biaya sewa Rp 90 juta/bulan.

Kepada calon korban, tersangka Gandhi mengaku bisa memasukkan seseroang untuk menjadi TNI AL, STPDN dan PNS.

Bahkan Gandhi mengaku bisa menuntaskan sengketa tanah seseorang hingga clear. Biaya yang dibandrol mulai puluhan hingga ratusan juta.

Sepanjang aksinya, Gandhi sudah mengantongi keuntungan Rp 8 miliar. Tersangka Gandi, mengaku uang hasil menipu dipakai untuk foya-foya, menyewa mobil dan tidur di hotel.

"Untuk tidur di hotel beberapa hari. Jadi uangnya ya untuk pindah dari hotel ke hotel," jawabnya singkat. Rupanya pengakuan tersangka tak langsung ditelan mentah-mentah oleh penyidik yang menangani.

"Uang hasil menipu terus kami selidiki dan terus kami kembangkan," cetus AKBP Sudamiran.

Pernah diposting netizen ke media sosial

Aksi kejahatan Gandhi ini pun pernah diposting netizen melalui media sosial Instagram.

Dalam postingannya, disebutkan, kalau Gandi di sini sebagai staf di Kementerian Pertahanan (Kemenhan). 

Ia disebut menipu sejumlah uang dari tahun 2014.

"Ini orang yang namanya Gandhi Pradikta alias Dave alias @kgph_dave (akun IG nya ) adalah seorang PENIPU. Dia berhutang 50 jt, janjinya membayar hutangnya dgn cara di cicil 5jt/bln, tp sampai detik ini tidak dibayar,dia berhutang dari thn 2014. Dia orang Banyuwangi dan ngakunya kerja di Kemenhan. Gayanya sok Boss, duit buat makan keluarganya hasil dari Nipu. Bagi yg kenal dia tolong sampaikan ke orang ini utk segera melunasi hutang2 nya ke saya," tulis akun instagram@aliffffc dalam caption fotonya pada tanggal 26 Mei 2016 lalu. 

Dua kasus penipuan berbeda

Gandhi Pradikta (32) diadili di Pengadilan Negeri Surabaya atas dua kasus penipuan yang berbeda.

Dia sebelumnya ditangkap Polrestabes Surabaya setelah mengaku sebagai anggota Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) dan menipu banyak orang.

Kedua, dia didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi telah menipu Moh Syafi'i.

Pria yang bekerja sebagai sopir taksi ini dijanjikan keponakannya bisa dimasukkan sebagai anggota TNI AL.

Syafi'i diminta membayar Rp 30 juta sebagai biaya memasukkan keponakannya.

"Tapi kenyataannya, keponakan saya tidak jadi apa-apa," ujar Syafi'i saat memberikan kesaksian dalam persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (12/7/2018) lalu.

Sejak perkenalan pertama di salah satu mall di Surabaya pada Maret 2018 lalu, Syafi'i sebenarnya ragu dengan Gandhi.

Namun dia akhirnya percaya dan terbujuk rayu setelah melihat pria asal Banyuwangi itu selalu menggunakan mobil mewah dengan pelat nomor dinas palsu.

Gandhi juga menunjukkan foto serta video sewaktu bersama pejabat-pejabat negara.

Bahkan ke manapun Gandhi pergi selalu dikawal dua orang berseragam polisi.

Sampai pada akhirnya, Gandhi menerima total uang Rp 133 juta.

"Kalau yang dari saya Rp 30 juta, ditambah dari keluarga keponakan saya yang lain sampai ratusan juta," ungkapnya.

Sebelumnya juga Gandhi menjalani sidang pertama kasus penipuan terhadap seorang pengusaha bernama Charles.

Jaksa penuntut umum (JPU) Neldy Denny mendakwa pria itu telah meminta uang Rp 165 juta untuk membantu eksekusi tanah dan sewa alat berat.

Uang itu diberikan Charles secara bertahap sebanyak tujuh kali selama bulan Maret.

Gandhi dianggap telah melanggar Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

****

Terkait Kasus Penipuan yang Mengaku-ngaku sebagai Pejabat Istana

Selain Gandhi, ada juga Sahistya K (SK).

Pria yang terlah berusia 40 tahun, bisa menikmati kehidupan mewah dengan mengaku sebagai staf kepresidenan Republik Indonesia.

Awalnya, SK bertemu dengan seorang pria berinisial H yang masih dalam pengejaran polisi.

Kepada SK, H menawarkan jasa pembuatan ID staf kepresidenan bidang intelijen dan lencana palsu dengan harga Rp 5 juta sekali memesan.

Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indardi mengatakan, berbekal ID palsu dari H, SK berkeliling ke sejumlah tempat dan mendekati sejumlah pejabat di berbagai daerah.

"Awalnya SK ini meng-entertaint para korbannya, misalnya mengajak makan di tempat makan mewah, karaoke dan sebagainya. Kepada para korban SK mencoba meyakinkan bahwa dirinya punya pengaruh," ujar Ade di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/3/2018) lalu.

Pelaku juga menjanjikan sejumlah pengusaha dan pejabat itu untuk menjadibacking saat terjerat masalah.

Karena percaya, para korban biasanya akan meng-entertaint balik pelaku dengan menyajikan makanan hingga hiburan mewah.

Setelah SK dan para korbannya telah menjalin hubungan pertemanan yang dekat, SK mulai meminta sejumlah uang dengan dalih sebagai pinjaman karena tengah dalam kondisi terdesak.

"Kalau sudah dapat, SK berpindah tempat dengan ID dan KTP baru buatan H dan kembali mendekati pejabat dan pengusaha penting di lain daerah," kata dia.

Kepada polisi, SK mengaku telah melancarkan aksinya sejak tahun 2014.

"Dia telah menipu hingga puluhan juta dari para korbannya,” ujar Ade.

Akhirnya, karena laporan dari sejumlah korbannya, modus penipuan SK terendus polisi. SK ditangkap di kediamannya, di Gading Serpong, Tangerang, Rabu (28/2/2018) lalu.

"Dalam penangkapan, jajaran Resmob menyita sejumlah barang bukti, berupa kartu staf khusus presiden Republik Indonesia bidang intelijen atas nama SK," kata Ade.

Sebelumnya, kelakuan pria dan bersama rekannya itu sempat ramai diperbincangkan di media sosial dan dibagikan melalui pesan berantai.

Ia dan rekannya, H, menikmati kehidupan mewah dengan mengaku sebagai staf kepresidenan Republik Indonesia.

Penuturannya dalam pemeriksaan, awalnya, SK bertemu dengan seorang pria berinisial H yang masih dalam pengejaran polisi.

Kepada SK, H menawarkan jasa pembuatan ID staf kepresidenan bidang intelijen dan lencana palsu dengan harga Rp 5 juta sekali memesan.

Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indardi mengatakan, berbekal ID palsu dari H, SK berkeliling ke sejumlah tempat dan mendekati sejumlah pejabat di berbagai daerah.

"Awalnya SK ini meng-entertaint para korbannya, misalnya mengajak makan di tempat makan mewah, karaoke dan sebagainya".

"Kepada para korban SK mencoba meyakinkan bahwa dirinya punya pengaruh," ujar Ade di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/3/2018).

Pelaku juga menjanjikan sejumlah pengusaha dan pejabat itu untuk menjadi backing saat terjerat masalah.

Karena percaya, para korban biasanya akan meng-entertaint balik pelaku dengan menyajikan makanan hingga hiburan mewah.

Setelah SK dan para korbannya telah menjalin hubungan pertemanan yang dekat, SK mulai meminta sejumlah uang dengan dalih sebagai pinjaman karena tengah dalam kondisi terdesak.

"Kalau sudah dapat, SK berpindah tempat dengan ID dan KTP baru buatan H dan kembali mendekati pejabat dan pengusaha penting di lain daerah," kata dia.

Kepada polisi, Sahistya K (SK) mengaku telah melancarkan aksinya sejak tahun 2014.

"Dia telah menipu hingga puluhan juta dari para korbannya,” ujar Ade melansir Kompas.com.

SK kemudian dijerat dengan Pasal 263 KUHP dan Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun penjara.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah