Cari

Ruhut Sitompul Menyasar Rumah Sebelah yang Pecah Kongsi soal Cawapres, Jangan Munafik

Posted 31-07-2018 20:12  » Team Friendonesia
Foto Caption: Ruhut Sitompul

Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ruhut Sitompul melontarkan sindiran kepada rumah sebelah yang ia anggap mulai pecah kongsi soal siapa cawapresnya.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitter @ruhutsitompul yang diunggah pada Selasa (31/7/2018).

Ruhut Sitompul mengatakan jika mereka mulai saling tuding. 

Meski demikian, Ruhut mengingatkan agar mereka tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang munafik kepada sesama teman perjuangan.

Menurut Ruhut Sitompul, hati boleh panas, tetapi kepala tetap dingin.

"Belum kerja sudah mulai Pecah Kongsi di Rumah sebelah siapa Cawapresnya ? dgn saling menuding ha ha ha emang enak, tapi janganlah sampai mengeluarkan Kata2 Munafik sesama Teman Perjuangan,

“Hati boleh Panas Kepala tetap Dingin” #2019 Mohon Pak JOKOWI 1X Lagi MERDEKA," tulis Ruhut Sitompul.

Diberitakan sebelumnya, kubu Prabowo Subianto kini masih menggodok sejumlah nama yang tepat mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra sebagai cawapres.

Sebelumnya, muncul beberapa nama yang menguat sebagai cawapres Prabowo, seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), 9 kader PKS (Ahmad Heryawan, Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Irwan Prayitno, Sohibul Iman, Salim Segaf Al Jufri, Tifatul Sembiring, Al Muzzammil Yusuf, dan Mardani Ali Sera), hingga Zulkifli Hasan.

Kemudian, dalam acara Ijtima Ulama dan Tokoh Bangsa yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) muncul beberapa nama tokoh cawapres yang direkomendasikan untuk mendampingi Prabowo Subianto.

Dalam forum yang digelar sejak Jumat lalu tersebut, GNPF merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri atau Ustaz Abdul Somad sebagai calon wakil presiden.

"Peserta Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional sepakat untuk merekomendasikan Prabowo Subianto-Al Habib Salim Segaf Al-Jufri dan Prabowo Subianto-Ustaz Abdul Somad Batubara sebagai calon presiden dan calon wakil presiden," ujar Ketua Umum GNPF, Yusuf Martak, di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Minggu, (29/7/2018), dikutip dari Tribunnews.

Diberitakan Kompas.com, setelah acara tersebut, Prabowo menggelar pertemuan dengan Demokrat pada Senin (30/7/2018) pagi di kediaman Prabowo Subianto.

Pertemuan tersebut sekaligus pertemuan balasan lantaran sebelumnya, Prabowo menyambangi kediaman SBY di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa (24/7/2018), sekitar pukul 19.15 WIB.

Dari hasil pertemuan di kediaman Prabowo, dua partai sepakat untuk berkoalisi.

Sedangkan dari pertemuan di kediaman SBY, ada sejumlah hal yang disepakati.

Satu di antaranya kesepakatan yang dicapai adalah kesamaan visi dan misi sebagai dasar untuk membangun koalisi dalam pilpres 2019.

SBY mengungkapkan sejak awal, jalan koalisi kedua parpol terbuka sangat lebar.

Isu dan visi serta misi kedua partai dinilai perlu disepakati lebih dulu sebelum menyatakan koalisi.

Jika hal ini sudah disepakati, maka diyakini koalisi pun bisa lebih mudah terbangun.

Setelah pertemuan ini, kedua parpol menyatakan akan melakukan pertemuan-pertemuan lain untuk membahas secara detil dan teknis.

Kedua parpol juga membentuk tim kecil yang akan bertugas menyusun teknis persiapan koalisi kedua partai.

Sementara itu, pada Senin (30/7/2018) malam, SBY melakukan pertemuan dengan Salim Segaf dari PKS.

Pertemuan tersebut merupakan lanjutan dari penjajakan politik untuk mempererat koalisi partai-partai pendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

Tanggapi Pidato SBY, Ruhut Sitompul: Yang Berani Kritik Jokowi, di Rumahnya Tak Ada Cermin

Mantan Anggota DPR RI, Ruhut Sitompul menanggapi sambutan Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberikan pidato usai bertemu dengan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto.

Dilansir TribunWow.com, melalui acara 'Dua Arah' yang disiarkan Kompas TV, Senin (30/7/2018).

Di awal video tersebut tampak menampilkan pertemuan Demokrat dengan Gerindra.

Setelah itu, tampak pidato SBY bersama Prabowo soal visi dan misi calon presiden yang diperlihatkan untuk penonton di studio tersebut.

SBY saat itu menyampaikan agar pembuatan visi dan misi tidak berlebihan.

"Saya harap visi misinya jangan terlalu panjang lebar, muluk-muluk malah nanti tidak bisa ditepati, rakyat ingat terus itu, yang simpel saja yang kongkret saja asal bisa dikerjakan," ujar SBY.

Saat ditanya Cindy Sistyarani selaku host acara tersebut, Ruhut lantas memberikan tanggapan.

"Jadi ada pepatah mulutmu harimaumu, saya selalu diajarkan siap menang siap kalah, tapi rupanya, saya lihat masih dendam kesumat terus, jiwa sensitif, wajar jika jalan Jakarta macet, ternyata ada yang sibuk minang meminang," ujar Ruhut.

Ruhut lantas menjelaskan lebih lanjut maksud kata sensitif yang ia ucapkan.

"Jadi jika ada yang berani mengkritik Pak Joko Widodo, artinya di rumahnya enggak ada cermin, enggak ada kaca, baru di era Pak Jokowi BBM dari Sabang sampai Merauke sama, infrastruktur jalan, jadi apa yang kalian omongin memang gue pikirin (EGP)," ujar Ruhut.

Diketahui, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, menyarankan agar Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, tak menyampaikan visi dan misi yang muluk-muluk jika menjadi calon presiden 2019-2024.

"Saya harap jangan panjang lebar dan muluk-muluk, malah nanti tidak bisa ditepati, karena rakyat ingat," kata SBY dalam jumpa pers bersama Prabowo, di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta, Senin (30/7/2018).

"Yang simpel dan konkret saja, yang penting bisa dilaksanakan dengan baik," sambung SBY yang dilansir dari Kompas.com.

Sebelumnya, SBY mengatakan telah sepakat bahwa Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto adalah calon presiden 2019-2024.

Hal ini disampaikan SBY usai melakukan pertemuan tertutup secara empat mata dengan Prabowo.

"Kami datang dengan satu pengertian, Pak Prabowo adalah calon presiden kita," kata SBY dalam jumpa pers di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran, Jakarta, Senin (30/7/2018).

Sementara itu, Prabowo mengatakan, bisa saja ia tidak diusung sebagai capres dalam koalisi ini karena belum ada dokumen hitam di atas putih.

Posisinya sebagai capres juga masih bisa berubah atas kehendak Tuhan dan dinamika yang terjadi.

Namun, jika memang nantinya Prabowo yang diusung sebagai capres, posisi cawapres akan diserahkan kepada dirinya.

SBY tidak akan mengintervensi.

"Beliau (SBY) serahkan sepenuhnya pada saya, seandainya saya nanti jadi calon presiden," kata Prabowo.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah