Cari

Sumut Ku Sayang, Sumut Ku Malang

Posted 12-07-2018 13:45  » Team Friendonesia

Sumatera Utara tanpa suku Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, Angkola, Nias, bukanlah Sumatera Utara. Sumut tanpa suku Jawa dan Aceh bukanlah Sumut. Sumut tanpa Melayu, Padang, Tionghoa, Sunda, Tamil bukanlah Sumatera Utara. 

Sumut tanpa Islam bukanlah Sumut. Sumut tanpa Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, aliran kepercayaan bukanlah Sumut. 

Kita bersatu dalam mangkok besar bernama Sumatera Utara. Di dalam mangkok itu kita bertutur sapa, bersahabat, berjalan bersama menikmati indahnya momen persaudaraan dalam bertetangga dan bergaul. 

Pilkada Gubsu 2018 suka tidak suka telah membuat mangkok besar itu retak. Retak karena ulah elit yang mabuk kekuasaan. Kita coba diseret, digiring untuk saling memunggungi karena berbeda pilihan. Yang berpihak pada keyakinan berbeda adalah musuh agama dan kelompok kita. 

Narasi identitas penyekatan atas nama agama ini mau tidak mau telah mengendap dalam memori panjang kita. Memori yang membuat tatapan mata kita saling memendam dendam, kebencian, amarah dan luka. Memori kolektif ini jika terus dipupuk oleh pemabuk kekuasaan hanya tinggal menunggu waktu saja akan membuat mangkok besar Sumatera Utara pecah berkeping-keping. 

Pada titik singgung ini, kitalah yang paling merugi. Kita akan kehilangan langit biru. Langit kita akan menghitam oleh api kebencian. Udara sekeliling kita akan pengap oleh deru nafas permusuhan. 

Mumpung masih ada waktu, saya bermohon kembalilah pada kodrat Sumatera Utara sejak nenek moyang kita ada dan mendidik kita. Bahwa Sumut tempat lahirnya keberagaman yang saling menghormati dan menyanyangi. Sumut adalah rumah besar keberagaman dimana setiap orang dipandang bukan dari agama, rasnya, sukunya, golongannya, asal usulnya. 

Saya Birgaldo Sinaga tidak bisa memilih lahir dari ibu bapak dari suku Batak beragama Kristen. Tuhan yang memilihkan saya beribu bapak seperti itu. Saya hanya bisa memilih ketika hidup, hidup untuk kebaikan atau kejahatan. Hidup untuk membenci atau mengasihi. Hidup untuk merawat kehidupan atau memangsa kehidupan. 

Pada akhirnya, ketika waktu saya habis di dunia fana ini, saya hanya ditempatkan pada sebuah rumah sepi nan lembab berbatu nisan di sini dikebumikan Birgaldo Sinaga. Hanya itu saja. 

Sebelum tiba waktunya, selama hayat dikandung badan, suara tanah kelahiranku Sumut akan terus ku suarakan. Suara tentang hidup saling toleransi, harmonis, damai, persaudaraan, keadilan, kemanusiaan dan kebaikan. 

Jika tidak, Sumut sebagai surga kecil di Pulau Sumatera akan gersang dan tandus akan cinta dan kasih sayang. Pada akhirnya akan menjadikan siapapun yang tinggal di Sumut menderita dan tidak berbahagia. Hidup diliputi kebencian, permusuhan dan curiga. 

Hari ini, Minggu, 8 Juli 2017, Cagub Cawagub Sumut Nomor 2, Djarot-Sihar mengucap pamit kepada semua warga Sumut dan relawan di Markas Relawan Cipto. Doa syukur dan ucapan terimakasih kepada masyarakat Sumut mengalir tulus dari hati terdalam Djarot Sihar. 

Tiada kata geram dan amarah keluar dari bibir mereka. Rasa cinta mereka lebih besar dari rasa menahan kekalahan. Bagi kedunya ini adalah pertarungan tentang nilai kebangsaan. Pertarungan ide dan gagasan. 

Terimakasih Pak Djarot dan Pak Sihar Sitorus yang datang ke Sumut untuk bertarung bahwa Sumut belum tenggelam.

Teruslah menjadi api penghangat indahnya kebhinekaan, indahnya keberagaman, indahnya warna warni sebagai rahmat Ilahi Sang Pencipta. 

Salam perjuangan penuh cinta

Oleh Birgaldo Sinaga

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah