Cari

Resensi Film Lima, Pembinaan Ideologi Pancasila

Posted 03-06-2018 11:16  » Team Friendonesia
Foto Caption: Pengunjung menunggu nonton Film Lima di Hermes XXI Jalan W. Mongonsidi Medan, Jumat (1/6/2018)

Peringatan hari lahir Pancasila yang jatuh pada hari ini, 1 Juni, menjadi pengingat awal dirumuskannya dasar negara.

Adapun, Film Lima yang merupakan arahan unit kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila dan Lola Amaria Production ditayangkan serentak di Bioskop mulai Kamis 31 Mei 2018, untuk menyambut Hari Lahirnya Pancasila.

Konon, film ini diproduksi dengan dana gotong royong dari para sukarelawan, sehingga sangat diharapkan dukungan kita semua dengan membeli tiket untuk bertahannya film ini di bioskop-bioskop tanah air.

Film LIMA bermuatan tentang sila-sila Pancasila yang menyatakan bahwa masing- masing sila ditangani satu orang sutradara. Lola Amaria sebagai produsen sekaligus sutradara penanggung jawab sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Film Lima bertujuan untuk membangun budaya intolerance, ditengah bahaya intolerance. Kisah fiksi yang menggugah cinta, nyata terjadi sebagai cermin negeri kita, kalbu tak pernah keliru. Pancasila tetap menyala haru.

Film Lima sebagai karya lima sineas: Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah dan Adrianto Dewo, yang bersatu dan bergotong royong menciptakan film yang kaya akan filosofi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, sebagai cerminan Bhinneka Tunggal Ika

Film Lima mengisahkan tentang pergulatan keluarga Indonesia dengan carut marut persoalan mengenai keberagaman, aturan agama, dilema pekerjaan, bullying, sampai pada pertanyaan mengenai masih adanya keadilan atau tidak untuk orang yang terpinggirkan.

Film Lima bercerita tentang sebuah keluarga yang masing-masing anggota keluarganya memiliki masalahnya tersendiri. Masalah-masalah mereka memiliki kedekatan dengan kita dalam berkehidupan sehari-hari. Mereka bergelut dengan permasalahannya, dan pada akhirnya semua kembali kelima hal mendasar yang kerap menjadi akar kehidupan mereka (dan kita) yaitu: Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan.

Film ini berusaha menyatakan kalau Pancasila itu bukan untuk dihafal, tapi bagaimana Pancasila dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang dekat dengan kita, keluarga dan tempat kerja.

Film Lima menyingkap fenomena ketertutupan batin, kepala kempes dan nurani membantu, yang tumbuh kembang secara liar di sekeliling kita, dan menyadarkan kita betapa jauhnya kita sudah tersesat. Inilah potret realita masyarakat yang saat ini mengalami epidemi penyakit hati, nalar dan spiritual yang sangat kronis.

Film Lima mengangkat hal yang sederhana dan seharusnya biasa di alam Pancasila, menjadi tampak sulit dan luar biasa, karena kedewasaan dan kecerdasan spiritual kita yang semakin rendah, tatkala perbedaan tidak lagi dianggap sebagai rahmat, anugerah, keniscayaanNya, dan ketika sebagian manusia dengan mudah men-dosa-kan sesamanya.

Jelasnya, film ini bermuatan pesan pluralisme, toleransi dan perennialisme, di-kreasi untuk mengimbangi maraknya aksi intoleransi, ekstremisme dan terorisme yang bertumbuh subur. Berbasis semangat melawan hal hal di atas dan tak perlu dikuatirkan proses data juga risetnya.

Setting sosialnya bermula dari kisah keluarga yang menikah beda agama, sebuah bidang yang rutin terjadi di nusantara yang multikultur ini, bukan?

Ceritanya, seorang ibu muslimah meninggal. Ia mempunyai tiga anak dari suami kristiani. Dua anaknya beragama Islam dan satu beragama Kristen. Karena ibu ini muslimah, syariat Islam memberikan hak hak berikut dalam proses pemakamannya: dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan. Konon, karena konsultannya berpaham NU, maka juga diadzani & ditalqinkan.

Nah kembali ke ibu muslimah di atas, saat pemakaman berlangsung, tiba juga rombongan dari keluarga suaminya yang kristiani. Mereka bertanya kepada anak almarhumah itu: "Boleh tidak kami mendoakan dengan cara dan agama kami? Cara dan agama Kristen."

Maka, anak almarhumah itu bertanya kepada Fira, Sang kakak dan keluarga beragama Islam. Oleh keluarga muslim itu, mereka diijinkan. Maka, mereka berdoa sebagaimana ajaran Gereja yang diberi ilustrasi/backsound lagu dan renungan khas gerejani. Jadi, tampak ada dua ritual pemakaman yaitu ritual Islam dan Kristiani.

Penonton Film Lima, Elisabeth mengatakan film ini bagus da seharusnya bisa masuk ke sekolah-sekolah, guna mengedukasi setiap individu juga. Tapi ada bagian terakhir Film Lima yang ia kurang setuju.

"Film ini bisa mengedukasi setiap masyarakat, membahas tentang tradisi agama, kebhinekaan, Mei 1998, di bagian awal dan pertengahan film ini sudah bagus. Film ini membahas tentang akhlak, memang kita banyak mengalami langsung di kehidupan sehari-hari. Menyangkut agama, pekerjaan, bukan pribumi, dinomorduakan dan sebagainya. Hanya saja di bagian terakhir, mengenai anak yang mencuri buah kakao, saya rasa kurang pas, masalahnya tentang cari pembenaran. Menurut saya, perusahaan besar juga enggak akan mengurus pencurian seperti itu langsung di sidang. Kesannya mencari pembenaran," ujar Elisabeth, di Hermes XXI Jalan W. Mongonsidi, Jumat (1/6/2018).

Ia menjelaskan di bagian terakhir kesannya seperti kita harus mengasihani. "Memang percayalah orang yang mencuri itu karena dia ingin mencuri bukan karena yang lain. Coba kalau kamu tidak ingin mencuri, walaupun kamu lapar, kamu miskin, kalau kamu tidak ingin mencuri kamu tidak akan mencuri,"ujarnya.

Dalam kesempatanya yang sama Penonton Film Lima, Ardhi mengatakan film ini menarik hanya pada di bagian awal saja mengenai agama.

"Jadi kadang-kadang kita bisa seperti Fara (Sang Kakak) yang bilang biar kita yang tanggung dosanya. Jadi orang beragama lebih mementingkan berbuat dosa daripada berbuat baik. Apa yang menarik tentang agama? Kalau nilai yang terbaik adalah Tuhan. Kita tahu Tuhan itu baik secara logika hal-hal yang baiklah yang harus kita utamakan. Bukan tradisi atau aturan agama lebih ke ritual dan yang bikin juga manusia. Sifat Allah yang seharusnya kita teladani,"ungkap Ardhi.

Ia berkata "dulu di Jakarta, Ahok, Mantan Gubernur DKI Jakarta pernah bilang gini "saya itu mendistribusikan keadilan sosial, itulah tugas pemerintahan," Jadi kalau ada yang bilang miskin, yang timpang itu pemerintahannya, belum mendistribusikan keadilan sosial itu. Jadi kadang-kadang orang berpikir pantas bila saya mencuri karena saya miskin oleh keadaan atau kurang distribusi keadilan sosial,"tuturnya.

Ardhi berpesan film ini ditonton setelah berbuka puasa karena ada pesan untuk setiap masyarakat.

"Apakah agama hanya mengajarkan masalah dosa hingga inti dari agama itu hanya hitung-hitungan dosa dan pahala? Letak sifat Allah itu sendiri kenapa tidak kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dosa itu perasaan yang tidak nyaman, Tuhan itu kebahagian, lawannya ketidakbahagian kalau kamu memahami agama dan itu membuat kamu tidak nyaman itu dosa. Jadi artinya kalau kita mau memahami agama dari sisi membahagiakan kita itulah nilai dasarnya. Jadi semua agama pasti ada dari sisi yang tidak nyamannya. Apa pun agama kita, setiap manusia punya hati nurani untuk bisa memilih yang terbaik dalam hidup ini," jelasnya.

Dikutip dari Tribun Medan
Tags
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah