Cari

Kenapa Mesti Malu Jika Hanya Sebagai Ibu Rumah Tangga? Sis ini menjawab dengan indah

Posted 29-01-2018 13:41  » Team Friendonesia
Foto Caption: Rahel Yosi Ritongan (facebook)
Pagi ini mendadak saya mendapat pesan dari seorang teman lama. Dulu kami sama-sama mengambil pasca sarjana di negeri Belanda. Dia kuliah di Amsterdam, saya di sebuah kota bernama Enschede. Namun kami berdua berasal dari kota yang sama, yaitu Semarang.

Dia bertanya,
"Sudah tahu belum? Lusa ada acara gathering untuk alumni mahasiswa Belanda."

Saya agak loading untuk beberapa detik.
"Oya? Dimana? Jam berapa? Sepertinya memang ada email tentang itu, tapi belum sempet baca," balas saya. 
Beberapa hari yang lalu saya memang disibukkan dengan situasi anak-anak saya yang sakit, sehingga belum sempat membaca email-email yang masuk.

Teman saya menyebutkan tempat dan waktunya. "Coba deh baca emailnya. Kamu dateng nggak? Soalnya reuni yang dulu aku nggak dateng."

Saya sengaja belum membalas pesannya karena sedang berpikir. Sebuah rasa malu tiba-tiba datang tak diundang ke dalam hati saya..., "Saya hanya ibu rumah tangga."
Lucu. Karena selama ini saya mungkin termasuk ibu rumah tangga yang paling percaya diri, karena meskipun saya bukan siapa-siapa... saya amat bersemangat menjalankan "profesi" ini. Walaupun hidup saya murni tanpa ada embel-embel arisan, perkumpulan hot mama, sosialita masa kini, atau girlsquad whatever, saya tetap bangga dengan menjadi diri sendiri.

Oh tapi ternyata ini adalah sebuah perasaan yang sangat manusiawi bila mendadak saya jadi minder. Bagaimana tidak? Ini sudah menjadi sebuah kultur dimanapun juga di belahan bumi ini, bahwa seorang ibu rumah tangga adalah 
"HANYA."
Hanya ibu rumah tangga. Hanya ngurus anak. Hanya di dapur. Hanya nyuci baju, nyuci piring, nyuci sandal-sandal. Hanya jemur baju dan setrika. Hanya nunggu suami pulang kerja. Hanya bisa minta uang dari suami.
Jaman sekarang ibu-ibu rumah tangga bisa bekerja dari rumah karena maraknya fasilitas jualan online, sehingga bisa punya penghasilan sendiri. Tapi tetap saja... HANYA ibu rumah tangga.

Dan jangankan HANYA. Tapi juga TIDAK.
Tidak ada yang tahu seberapa lelahnya dia.
Tidak ada yang tahu apakah dia bahagia atau tidak.
Tidak ada yang bertanya "Bagaimana kabarmu hari ini?"
Tidak ada penghargaan dan pujian.

HANYA, TIDAK, dan SELALU.
Selalu diremehkan dan dipandang sebelah mata.
Selalu dicibir ketika dia melakukan kesalahan.
Selalu dihakimi ketika dia merasa depresi.
Selalu dicap gila padahal entah siapa yang membuat dia gila.

Tidak heran saya bisa tiba-tiba minder juga. Dari yang percaya diri jadi menciut.

****

Dua belas tahun yang lalu saya termasuk mahasiswa Indonesia termuda yang berhasil lolos berangkat ke Belanda. Dua tahun setelahnya saya berhasil lulus dengan gelar Master of Science dari universitas yang masuk peringkat 150 universitas terbaik di dunia.
Ketika pulang ke tanah air, saya kembali bekerja dengan mendapat gaji yang termasuk tinggi di jaman itu. Dan ingat betul saat dua tahun kemudian dari saat itu, kala suami saya menemui kedua orang tuanya untuk melamar saya, kalimat pamungkasnya adalah "Calonku bergelar Master dan punya pekerjaan yang bagus dengan gaji sekian juta."
Dan itulah salah satu faktor kedua orang tuanya menyetujui, karena kami berdua sama-sama sudah cukup umur dan mapan.
Saya juga belum lupa, tahun itu ketika baru melahirkan dan saya cuti tidak bekerja beberapa bulan di rumah, mertua saya bertanya apakah saya tidak ingin bekerja lagi.

Dan inilah saya beberapa tahun kemudian... Mantap dan bahagia menjadi seorang ibu rumah tangga. Hanya mengurus anak-anak dan rumah tangga. Ada yang bilang bodoh karena orang cerdas lulusan luar negri ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga penuh waktu. Ada lebih banyak lagi yang tidak percaya, dengan penampilan seperti saya yang sehari-hari hanya pakai daster, saya adalah seorang bergelar Master dari Eropa.
Jangankan ibu-ibu bergelar Master, saya lebih sering dikira si embak ketika orang datang ke rumah dan kebetulan saya sedang menyapu atau mengepel.

Jadi... kenapa mendadak kepercayaan diri saya menguap untuk beberapa detik tadi?
Karena bayangan semua alumni yang datang pastilah memiliki profesi yang penting seperti pejabat pemerintah, dokter, dosen, peneliti, atau apa saja. Dan ketika kami mengobrol sana-sini pastilah akan ada pertanyaan basic, "Gawe apa nih?"
Jadi bagaimana saya akan menjawab?
"Saya HANYA ibu rumah tangga."?
Mungkin saya biasa saja. Tapi kira-kira bagaimana dengan yang bertanya? Akankah raut wajahnya jadi aneh?
Ini kira-kira suasananya bakalan seperti ketika seorang lajang ditanya kapan nikah atau saat pasutri ditanya kapan nambah anak bla bla bla. Entahlah.

****

Kemudian saya teringat sosok ibu saya. Beliau adalah anak seorang keturunan bangsawan dan diplomat, namun karena menikah di usia muda, beliau hanya sempat mengecap sekolah diploma dan kemudian tidak pernah bekerja karena tidak diijinkan ayah saya. Tapi apakah saya pernah malu dan mempertanyakan ibu saya? Saya bangga dan sayang setengah mati pada ibu saya. Beliaulah pahlawan saya di dunia.
Yang seluruh hidupnya pontang-panting mengurusi keempat anaknya dan tidak pernah berhenti mengasihi kami tanpa syarat. Beliau selalu ada untuk kami dalam suka dan duka. Definisi murni seorang ibu terwakili dengan jelas oleh ibu saya: sabar, penuh kasih dan sayang, ulet, rajin, bertanggung jawab, dan tegar. 

Saya tak pernah malu ibu saya hanya ibu rumah tangga yang tidak punya gelar pendidikan tinggi dan profesi bergengsi. Yang saya tahu, hidup saya komplet karena memiliki seorang ibu yang sepertinya. Dan terlebih lagi, beliau tidak pernah malu terhadap dirinya sendiri yang sederhana dan bersahaja. Beliau cukup hanya dengan menjadi dirinya sendiri.

Jadi kenapa ya saya harus malu?

Ibu telah memenangkan hati anak-anaknya walaupun beliau hanya ibu rumah tangga. She holds our hearts forever.
Dan melihat diri saya sendiri pada hari ini yang bukan siapa-siapa, saya juga ingin suatu hari nanti anak-anak saya dapat bercerita yang sama tentang ibu mereka.

****

Jadi saya rasa saya sudah siap seandainya lusa datang dan ditanya, "Kerja dimana?"
Toh sudah ratusan kali saya ditanya seperti itu dan mampu menjawab dengan rasa bangga yang sama.

Ibu-ibu rumah tangga alias house wife bahasa kerennya...
Mari tetap menyayangi diri sendiri sebelum kita mampu menyayangi keluarga kita. Terimalah profesi kita dengan bangga dan penuh syukur walaupun tidak ada gemerlap arisan ibu-ibu cantik dengan ootd yang kece. Di penghujung hari, rasa nyaman dan aman keluarga kita di rumahlah yang menjadi tolok ukur kebahagiaan kita sebagai seorang ibu, bukan karena kelompok yang itu atau yang ini.
Biarlah kita dipandang sebelah mata... Tidak perlu pengakuan dunia untuk membuat diri ini utuh, sebaliknya kewajiban kitalah untuk membuat keluarga kita di rumah selalu merasa hangat dan sejahtera.

Keeps going, full of hope, never quits.
Emak Rahel Yosi Ritonga 

****
Tulisan ini adalah penghargaan saya kepada semua ibu rumah tangga yang mengalami depresi. Saya tidak menghakimi kalian, may God bless and help you all.

 

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah