Cari

Diskusi Adik Presiden Gusdur Gus Sollah Dengan Sahat Gurning, Singgung Soal Pancagila

Posted 03-11-2017 10:24  » Team Friendonesia
Foto Caption: Tokoh NU, KH Salahudin Wahid (kanan) dan aktifis Sahat Gurning (kiri)

Tobasa - Tokoh NU, KH Salahudin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sollah melakukan road show ke Tano (Tanah) Batak. Desa Sosor Ladang, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir merupakan satu dari beberap daerah yang dikunjunginya, Rabu (1/11/2017) malam.

Kehadiran Gus Sollah yang merupakan pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur itu disambut hangat warga, tokoh muda dan tokoh adat, tokoh agama. Rudi Napitupuludan dan aktifis Sahat Gurning, aktifis yang pernah dipenjara karena kritikannya melalui seruan Pancagila, menjadi fasilitator kehadiran Gus di di Masjid Al-Iklas, desa kecil itu.

Duduk bersama di dalam Masjid, mereka alot berdiskusi terkait penguatan ideologi Pancasila. Selain itu, mereka juga menyinggung rencana penguatan kedaulatan desa.

Gus berujar negara akan kuat kalau masyarakat desa bergotong royong dan warganya pasti sejahtera. Karenanya, dia mengajak pemuda desa menyukseskan kedaulatan desa. Dengan demikian, seluruh warga desa, baik berlatar belakang apa saja harus tetap menjalin kebhinekaan.

Hal paling menarik, ketika membahas Kebhinekaan dan nilai-nilai Pancasila yang kian luntur. Bahkan mengancam kesatuan negara yang warganya beragam.

Ustad S Nasution pengurus Masjid desa itu, menyampaikan, tak menyangka akan dihadiri seorang Gus yang jauh di Ibu Kota. "Tak kita sangka seorang Gus mengunjungi kita di Desa terpencil ini. Terimakasih Kia," cetusnya.

Menurutnya, sejauh ini masyarakat Tobasa, khususnya Desa Sosor Ladang dapat hidup berdampingan dengan semua warga. Baik Kristiani, Parmalim dan sebagainya keseluruhannya direkat ileh adat istiadat.

Pada sesi tanya jawab, Sahat Gurning menyampaikan beberapa point. Katanya, kemajuan masih akan sulit karena pejabat masih saja banyak yang tidak mengimplementasikan Pancasila.

"Sayang sekali, pada umumnya yang terjadi kenyamanan Sosial bagi seluruh keluarga pejabat dan wakil rakyat, bukan keadilan yang sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya lihat Pancasila itu belum dilaksanakan dengan baik," sebutnya dan  Gus sontak tertawa.

Sahat Gurning  menanyakan tentang masyarakat yang saat ini terus diadudomba mengatasnamakan agama. Apalagi, Sahat menilai banyak kemunafikan yang terjadi saat ini di tengah-tengah bangsa.

Gus mengamini apa yang disampaikan Sahat. Namun dia menjelaskan, semua tergantung pribadi masing-masing. Namun, orang-orang yang melenceng katanya harus terus dididik.

"Memang betul, Pancasila itu lebih banyak dibicarakan daripada dikerjakan. Beberapa bulan lalu ada juga profesor mengatakan, yang diajari Pancasila itu sebaiknya adalah pemimpin bukan Rakyat. Jadi, terimakasih telah mengkritik meski kamu sampai dipenjara. Toh sekarang kamu sudah bebas kan, hehehe " sebut Gus dan memancing tawa para peserta diskusi.

Kata Gus, negara akan kuat kalau masyarakat desa bergotong royong dan warganya pasti sejahtera. Gus juga berharap, seluruh warga desa, baik berlatar belakang apa saja harus tetap menjalin kebhinekaan.

Dia berpesan agar pemuda di desa tidak mau terpengaruh oleh kekisruhan di kota-kota besar yang saat ini terjadi. Apalagi, gesekan yang mengatasnamakan agama selalu bermunculan untuk memecah kedaulatan bangsa.

Gerimis dan angin menyatu dalam dingin.  Namun warga dan anak-anak muda, tokoh adat dan tokoh lintas agama yang telah menunggu Gus tak surut. Gus datang bersama istrinya Farida didampingi Tokoh Muda Batak Dunia, Sabar Mangadu Tambunan, tokoh Masyarakat Adat Nusantara Abdon Nababan dan pimpinan Agama Malim Marsada, Sampuara Marpaung dan warga lainnya.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah