Cari

Pengrusakan Tembok Secara Massal di Wilayah Gereja HKI

Posted 16-01-2018 15:10  » Team Friendonesia
Foto Caption: Pengrusakan tembok di Wilayah gereja HKI Tarutung

Tembok di wilayah Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Tarutung rata dengan tanah. Batu bata serta serpihan semen perekat tembok berserakan, Selasa (16/1/2018).

Pemilik bangunan, Jonggi Lumban Tobing (55) mengatakan bangunannya dirusak oleh sejumlah jemaat Gereja HKI Tarutung usai ibadah pada hari Minggu 14 Agustus 2018 lalu.

Tembok tersebut sepanjang kurang lebih 110 meter tinggi 2 meter.

"Saya juga masih ikut ibadah hari Minggu itu. Usai ibadah Pendeta yang bertugas Harianto U Harianja menanyakan jemaat soal keberadaan tembok. Lalu jemaat menjawab "Hancurkan". Kemudian jemaat keluar dan merusak tembok itu,"ujarnya.

Keberatannya atas perusakan itu dikarenakan, dirinya merupakan Ketua Yayasan HKI Tarutung yang sah. Kata Jonggiberhak meneruskan kepemimpinan pengurus yayasan atas nama St Edwar Marulitua Lumban Tobing sesuai salinan putusan nomor 435/PDT/2002/PT-MDN Tanggal 4 Maret 2003.

Dia menjekaskan, saat terjadi pengrusakan mereka tidak dapat berbuat banyak selain hanya bisa menyaksikan peristiwa pengrusakan. Atas persoalan tersebut, mereka telah membuat pengaduan ke Polres Taput.

"Demi menghindari kontak fisik, kami hanya bisa menyaksikan pengrusakan yang dilakukan jemaat. Namun, kasus ini telah kami laporkan kepada Polres Taput,"Jelasnya.

Pada rekaman audio visual yang ditunjukkannya, sejumlah jemaat meratakan tembok dengan kayu. Mereka terdiri dari kaum ibu hingga anak muda.

Sementara itu, Pdt U Harianja yang saat itu bertugas membenarkan terjadinya peristiwa pengrusakan oleh sejumlah jemaat. Insiden pengrusakan itu terjadi akibat spontanitas jemaat.

"Itu spontanitas, saya tidak menyaksikan lagi karena saya langsung ke belakang gereja setelah memberikan berkat,"sebutnya.

Sepengetahuannya, penyebab terjadinya pengrusakan oleh jemaat dilatarbelakangi adanya pembangunan tembok. Sejak Senin pembangunan tembok terus dilakukan yang menutnya tanah tersebut adalah milik kubu mereka yang diketuai Marhara Dongan Lumban Tobing.

Menurutnya pembangunan dilakukan secara sepihak oleh Jonggi tanpa ada konfirmasi terhadap mereka. Pembangunan terus dikerjakan hingga Sabtu.

Selaku Pdt Resort, katanya dia akan membawa persoalan tersebut dalam rapat untuk menyikapi hari Jumat mendatang. Namun, disebutkannya sebelumnya dirinya telah memberitahu ke Plores agar poroses bangunan diberhentikan.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah