Cari

Mencari Bumi Untuk Berpijak Oleh Para Non Priboemi Jakarta

Posted 18-10-2017 11:18  » Team Friendonesia
Foto Caption: Tukang sayur pasar senen pada jaman dahulu

Pada jaman kolonialisme, sebutan 'Priboemi' disematkan kepada masyarakat lokal Indonesia. Sebagai bagian dari pengklasifikasian kelas peradaban di era kolonialisme.

Priboemi yang berarti primordial etnics merupakan salah satu bentuk kampanye politik kolonialisme, sebuah pola strategi 'devide et impera' dalam menekan eksistensi kehidupan penduduk asli daerah koloni.

Ingin lepas dari sebutan priboemi yang begeser maknanya menjadi jelata, banyak masyarakat Indonesia mencoba bergerak mengangkat status dan kedudukannya dalam pemerintahan kolonial maka lahirlah sebutan para 'Priyayi'.

Walaupun kemudian di era kemerdekaan, sebutan Priyayi seolah bergeser maknanya menjadi antek-antek kolonial. Dilain pihak sebutan 'Priboemi' digalakkan menjadi politik pergerakan oleh kaum tertindas seperti para marjinal (buruh), petani, dan masyarakat menengah ke bawah lainnya.

Secara tersirat pidato Anies Baswedan, mirip dengan politik kemerdekaan yang berusaha membangkitkan rasa kebencian antar golongan masyarakat melalui sebutan 'Priboemi' sebagai umpan balik politik untuk mendapatkan kekuatan massa.

Terima atau tidak Jakarta merupakan salah satu warisan kolonialisme yang sejak awal sudah menjadi wilayah kosmopolitan dengan populasi heterogen. Melupakan pola keberagaman kota Jakarta, berarti menolak kompleksitas dan keberterimaan akan masyarakat dan sejarah kota itu sendiri.

Dalam arti, pidato politik Anies, sudah membuka lembaran baru perlawan lapisan masyarakat tertentu yang bukan merasa sebagai golongan penduduk asli kota Jakarta yang selama ini lebih banyak disematkan kepada suku Sunda dan Betawi.

Dilain pihak merujuk kepada pola pikir dan moral masyarakat Indonesia, ketimpangan perlakuan dalam masyarakat kerap disalah artikan yang berujung kepada kesewenang-wenangan kaum tertentu. Dan tak mungkin diakhiri dengan gesekan yang berpontensi menjadi riot.

Sebuah aksi yang cukup 'menggemaskan' di awal kepemimpinan Anies Sandi, bukti cerminan seorang pemimpin yang lahir dari perpecahan antar kaum di kota kosmopolitan Jakarta.

Diakhir kata saya cuma bisa mengucapkan Selamat bertugas kepada pak Anies Sandi. Semoga kelak anda bisa membangun kota Jakarta yang lebih manusiawi dan tetap menjadi ikon keberagaman masyarakat Indonesia.

Horas...

Oleh Ondo Alfry Simanjuntak

Teman Sebangsa dan Setanah Air

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah